Solidaritas Internasional untuk KBAK Gunungsewu: Friends of the Earth (FoE) Asia-Pacific Desak Perubahan Sistem dan Penghentian Perusakan KBAK Gunungsewu

Yogyakarta, 28 Oktober 2026 - Perjuangan dalam mempertahankan ruang hidup dan menghentikan perusakan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gunungsewu mendapat dukungan solidaritas dari 120 peserta Asia Pacific System Change Convergence yang diselenggarakan oleh Friends of the Earth Asia Pacific (FoE APAC) selama 17–21 Oktober 2026 di Yogyakarta. Dalam salah satu rangkaian kegiatan tersebut, WALHI Yogyakarta menyerukan dukungan jaringan solidaritas regional Asia-Pasifik untuk memperkuat advokasi terhadap ekspansi industri pariwisata yang hari ini mengancam keberlanjutan ekosistem karst dan kehidupan masyarakat di pesisir Gunungkidul. Forum tersebut turut dihadiri oleh perwakilan jaringan FoE dari regional Afrika, Amerika, dan Eropa. 

Egit Andre Kelana, mewakili WALHI Yogyakarta, menyampaikan orasi di sela-sela kegiatan. Dalam orasinya, Egit menceritakan bagaimana industri pariwisata yang tengah berekspansi di pesisir Gunungkidul telah menyebabkan kerusakan pada ekosistem karst Gunungsewu. Selain itu, ekspansi industri pariwisata di kawasan tersebut juga turut memunculkan persoalan ketimpangan penguasaan ruang dan ketimpangan relasi kuasa yang menyingkirkan masyarakat dari ruang hidupnya sendiri. Egit memberikan contoh dengan menyampaikan perjuangan yang saat ini dilakukan oleh masyarakat di kawasan Pantai Sanglen dan Pantai Watu Bolong yang saat ini turut terancam oleh ekspansi industri pariwisata. Para peserta forum yang berasal dari mancanegara menyatakan dukungan solidaritas kepada warga yang saat ini tengah memperjuangkan ruang hidupnya, sekaligus mendesak agar perusakan KBAK Gunungsewu akibat aktivitas industri pariwisata segera dihentikan.  

Dalam forum yang bertemakan “System Change” ini, forum menyerukan “Karst for life not for sale!” dan menekankan bahwa untuk menghentikan kerusakan di kawasan karst harus dilakukan dengan melakukan pembongkaran terhadap relasi kuasa yang memungkinkan penguasaan ruang untuk kepentingan investasi dengan mengorbankan hak masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. Forum ini melihat adanya perkawinan antara para pemilik modal, kewenangan institusi feodal (Keraton) melalui penguasaan tanah, dan lemahnya keberpihakan pemerintah terhadap warga. Selama ini, klaim Keraton Yogyakarta atas tanah yang dikenal sebagai Sultan Ground kerap menjadi bagian dari mekanisme perampasan ruang yang selama ini dikelola masyarakat demi mengakomodasi kepentingan investasi. Dorongan pertumbuhan ekonomi akhirnya kerap menjadi alasan untuk menjadikan kawasan karst sebagai objek eksploitasi yang menimbulkan ketidakadilan ekologis. 

Senada dengan pandangan tersebut, Egit menegaskan, “Kita tidak bisa menghentikan perusakan terhadap ekosistem karst dari aktivitas industri pariwisata yang ekstraktif jika pranata feodal dan legitimasi politiknya atas tanah dibiarkan tetap ada. Karena itu, sistemnya memang harus diubah!” Perubahan sistem harus dimulai dengan memperkuat perjuangan masyarakat yang berhadapan langsung dengan ketidakadilan. Upaya ini dapat dimulai dengan cara membangun dukungan solidaritas terhadap upaya perjuangan masyarakat yang saat ini tengah memperjuangkan ruang hidupnya.  

Dalam forum tersebut, sekitar 120 orang peserta yang berasal dari 8 negara di Asia-Pasifik dan sejumlah perwakilan dari negara-negara region lainnya menyerukan 3 (tiga) tuntutan: 

  1. Tolak pengembangan industri pariwisata di seluruh kawasan karst Gunungsewu! 
  1. Tutup seluruh industri pariwisata yang merusak ekosistem karst Gunungsewu! 
  1. Wujudkan keadilan ekonomi bagi masyarakat! 

Dukungan solidaritas dari jaringan FoE Asia-Pacific, serta FoE region lainnya, memperkuat perjuangan warga di Watu Bolong, Sanglen, dan masyarakat Gunungkidul lainnya dalam mempertahankan ruang hidupnya di kawasan KBAK Gunungsewu. Selain membangun solidaritas internasional, kegiatan dengan tema “System Change” ini juga menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan dan perampasan ruang hidup bukanlah persoalan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sistem ekonomi-politik yang merusak. 

“Karst for life not for sale!”

Bagikan catatan ini